Luwu Timur, Chaneltimur.com – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Tomoni Timur memperkuat sinergi lintas sektor dalam menangani persoalan kesehatan masyarakat melalui Lokakarya Mini Lintas Sektor Triwulan I Tahun 2026 yang digelar pada Kamis (23/4/2026). Forum ini menjadi ruang evaluasi sekaligus perumusan langkah strategis berbasis data lapangan yang dipaparkan langsung oleh Kepala Puskesmas Tomoni Timur, Deli Gustin, SKM, M.Kes.
Dalam pemaparannya, Deli menyoroti sejumlah indikator kesehatan yang masih memerlukan perhatian serius. Data menunjukkan terdapat 45 kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Tomoni Timur. Persoalan ini dinilai tidak hanya berkaitan dengan sektor kesehatan, tetapi juga menyangkut pola asuh, ketahanan pangan keluarga, hingga kondisi sanitasi lingkungan.
Di sisi lain, kondisi kesehatan ibu hamil turut menjadi perhatian. Dari total 95 ibu hamil, sebanyak 6 orang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan 3 orang mengalami anemia. Kasus KEK tersebar di beberapa desa, masing-masing Desa Pattengko (3 kasus), Desa Purwosari (2 kasus), dan Desa Cendana Hitam (1 kasus).
Beban penyakit juga tergambar dari data pelayanan kesehatan. Hingga Maret 2026, hipertensi menjadi penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan dengan 122 kasus. Disusul batuk sebanyak 70 kasus, dispepsia atau nyeri ulu hati sebanyak 70 kasus, serta pulpitis sebanyak 69 kasus. Sementara pada layanan rawat inap, dispepsia dan gastroenteritis akut (GEA) tercatat sebagai kasus terbanyak, masing-masing 12 kasus.
Untuk penyakit menular, pemantauan tetap dilakukan secara intensif. Hingga April 2026, terdapat tambahan 1 kasus baru HIV, melengkapi 8 kasus lama yang tercatat pada tahun sebelumnya. Selain itu, distribusi kasus tuberkulosis (TB) terus menjadi perhatian dalam kerangka target eliminasi nasional tahun 2030.
Sebagai tindak lanjut, Puskesmas Tomoni Timur merencanakan verifikasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Cendana Hitam pada Juni 2026. Program ini diarahkan untuk memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat sekaligus menekan faktor risiko berbasis lingkungan.
Puskesmas juga mengimbau masyarakat untuk aktif mengikuti skrining penyakit tidak menular (PTM), khususnya bagi kelompok dewasa dan lansia. Upaya ini dipandang penting dalam mendorong deteksi dini serta pengendalian faktor risiko penyakit kronis.
Deli Gustin menegaskan, berbagai persoalan kesehatan tersebut tidak dapat diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kecamatan, desa, hingga masyarakat.
“Masalah kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja. Kolaborasi lintas sektor adalah kunci menuju masyarakat yang sehat dan berdaya,” ujarnya.
Melalui lokakarya ini, diharapkan terbentuk komitmen bersama untuk memperkuat integrasi program dan intervensi lintas sektor guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Tomoni Timur secara berkelanjutan. (Red)





