Luwu Utara, Chaneltimur.com – Hasna seorang ibu rumah tangga (IRT) , warga asal Desa Tarobok, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, yang menjadi korban penembakan salah sasaran yang dilakukan oleh oknum anggota kepolisian Polres Tarakan, Kalimantan Utara, pada Selasa, 27 September 2022 Lalu.
Kepada awak media pada Minggu (3/5/2026), Hasna menceritakan detik-detik kejadian yang mengubah hidupnya hingga saat ini.
Menurut penuturannya, saat itu dirinya sedang menjaga warung sekaligus melayani pengisian bahan bakar eceran ketika sebuah mobil yang disebutnya ditumpangi sejumlah anggota polisi berhenti di depan warungnya.
“Awalnya polisi datang pakai mobil, di dalamnya ada sekitar empat atau lima orang. Mereka singgah di depan warung saya untuk isi bensin, saat saya sedang isi bensin, ada dua orang lewat berboncengan naik motor, sempat saya ingatkan supaya pelan karena jalan sempit,” ujar Hasna.
Beberapa menit kemudian, situasi berubah drastis. Hasna mengaku tiba-tiba merasakan sakit hebat di bagian dada sebelum akhirnya tersungkur.
“Tiba-tiba saya berteriak karena dada saya terasa sakit sekali, seperti kena ledakan. Saya langsung sesak, teriak minta tolong. Anak saya juga ikut berteriak karena melihat langsung saya terkena tembakan,” ungkapnya.
Setelah kejadian itu, Hasna dilarikan ke puskesmas sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Tarakan dan menjalani perawatan selama dua pekan. Dari hasil pemeriksaan medis, ia kemudian dirujuk lagi ke rumah sakit di Samarinda karena kondisi paru-paru kanannya mengalami gangguan serius.
“Saat di rumah sakit Tarakan, biaya pengobatan memang ditanggung pihak Kepolisian Polres Tarakan, Kalimantan Utara, Tapi dokter bilang saya harus dirujuk ke Samarinda karena paru-paru kanan saya sudah tidak berfungsi,” katanya.
Hasna mengaku sempat mendapatkan janji bahwa seluruh biaya pengobatan akan ditanggung oleh pihak kepolisian Polres Tarakan hingga dirinya pulih. Namun, menurutnya, setelah menjalani operasi dan kembali ke Tarakan, janji tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Ia juga mengaku pernah dipanggil ke Polres Tarakan untuk menandatangani sejumlah dokumen ketika kondisinya masih lemah.
“Saya dipanggil tanda tangan surat, tapi saya tidak tahu surat apa, karena waktu itu saya masih sakit dan tidak fokus, saya tanda tangan saja,” ujarnya.
Setelah itu, ia dipertemukan dengan oknum polisi yang disebut sebagai pelaku penembakan. Menurut Hasna, oknum tersebut sempat menyampaikan permintaan maaf.
Hingga kini, Hasna mengaku masih dalam kondisi sakit dan terus menjalani pengobatan secara mandiri dengan mengandalkan BPJS Mandiri dan biaya pribadi sisa uang hasil jual rumah di Tarakan (Kalimantan Utara), Ia menyebut aktivitas dan kondisi fisik, kesehatan dan ekonominya berubah drastis (Dalam kondisi tidak baik-baik saja) ‘ sejak kejadian tersebut.
“Saya sudah tiga tahun tidak bisa bekerja (nganggur) setelah kejadian itu. Awalnya biaya hidup dan berobat pakai tabungan, sampai akhirnya saya jual rumah di Kalimantan dan pulang ke kampung halaman di Luwu Utara dan sampai sekarang saya masih berobat ,” katanya.
Hasna mengaku mengalami kerugian fisik, psikis, dan ekonomi akibat insiden tersebut. Ia berharap ada keadilan, serta tanggung jawab dari pihak terkait atas kondisi yang masih di alaminya sampai sekarang.
“Saya sudah banyak keluar biaya untuk berobat sendiri, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Sampai sekarang kondisi saya belum benar-benar pulih (Sakit), saya hawatir kalau sisa uang saya dari hasil jual rumah juga habis, saya mau ambil uang dari mana lagi untuk biaya hidup dan berobat, suami saya juga sudah tidak kerja, di tambah anak saya yang satu juga sakit-sakitan,” ungkapnya.
Selain itu, Hasna juga mempertanyakan informasi yang beredar terkait sanksi terhadap Polisi yang diduga menembaknya.
“Dan juga info yang saya dapat bahwa polisi yang tembak saya itu sudah dihukum dipenjara, tapi saya tidak percaya. Buktinya sampai sekarang dia masih aktif kerja. Kesepakatan saya saja dengan mereka dilanggar, apalagi kalau cuma dengar cerita-cerita begitu,” kata Hasna. (Tim)





