Penanganan Stunting Butuh Keterlibatan Semua Pihak

oleh -8 membaca
oleh

Luwu Timur, Chaneltimur.com Upaya menekan angka stunting tidak bisa dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan atau pemerintah desa. Persoalan yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak itu membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, kader kesehatan, hingga pemerintah di berbagai tingkatan.

Pesan itu disampaikan ketua BPD “Rahmat Ilyas” desa Tarengge, saat menghadiri Rembuk Stunting di Desa Tarengge Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Tarengge, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa, pendamping desa, perwakilan Puskesmas wotu, kader posyandu, serta sejumlah warga setempat.

Dalam sambutannya, Kades Tarengge, “ANWAR” menyoroti masih bertahannya persoalan stunting meskipun berbagai program dan dukungan anggaran telah digulirkan selama bertahun-tahun. Menurut dia, pemerintah pusat, daerah, hingga desa telah mengalokasikan sumber daya yang cukup besar untuk menangani masalah tersebut.

“Stunting ini merupakan persoalan yang sudah cukup lama menjadi perhatian pemerintah. Dana desa maupun anggaran pemerintah daerah terus dialokasikan untuk penanganannya, tetapi kasus stunting masih ditemukan di masyarakat,” ujar Anwar.

Ia menilai salah satu tantangan dalam penanganan stunting adalah beragamnya faktor penyebab yang melatarbelakangi setiap kasus. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak bisa disamaratakan.

Menurutnya, stunting tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi pola asuh, kondisi kesehatan ibu dan anak, sanitasi lingkungan, serta tingkat pemahaman keluarga mengenai pemenuhan kebutuhan gizi.

Karena itu, ia meminta seluruh unsur yang terlibat, seperti tenaga kesehatan, Tim Pendamping Keluarga (TPK), Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), kader posyandu, pemerintah desa, hingga masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam melakukan pendampingan kepada keluarga yang berisiko.

“Penanganan stunting harus dilakukan secara bersama-sama. Setiap pihak memiliki peran yang penting agar anak-anak dapat tumbuh sehat dan memperoleh haknya untuk berkembang secara optimal,” katanya.

Data yang dipaparkan pendamping gizi Puskesmas wotu menunjukkan bahwa hingga saat ini terdapat 178 kasus stunting di wilayah Kecamatan wotu. Dari jumlah tersebut, 8 kasus, tercatat berada di Desa Tarengge.

Melalui rembuk stunting itu, pemerintah desa bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat menyusun langkah-langkah prioritas yang lebih tepat sasaran, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menurunkan angka stunting.

Bagi Desa Tarengge, forum tersebut tidak sekadar menjadi agenda tahunan perencanaan pembangunan desa. Lebih dari itu, rembuk stunting menjadi ruang untuk menyatukan langkah, memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan terbebas dari ancaman gagal tumbuh sejak usia dini. (Red)