Wakatobi, Chaneltimur.com – Kegiatan Diseminasi Karya Festival Kabuenga Wakatobi dengan tema “Ajang Perjodohan” berlangsung sukses dan lancar di Luna Garden, Wangi-Wangi Selatan, Kamis (27/8/2026).
Acara ini membuktikan, pelestarian tradisi bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan membuka jalan bagi pengembangan pariwisata, promosi daerah, dan potensi ekonomi berbasis budaya di Pulau Kapota serta Wakatobi secara keseluruhan
Acara dibuka secara resmi oleh Asisten I Kabupaten Wakatobi, Bakri, S.H. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi tinggi kepada komunitas Kapota Maliga sebagai pionir pelestarian kebudayaan daerah.
“Kabuenga Wa Sinta yang digelar selama tujuh hari dengan puncak acara 5 April 2026 merupakan bukti nyata inisiatif masyarakat menghidupkan kembali tradisi. Langkah ini sangat penting untuk keberlanjutan kebudayaan kita,” ujar Bakri.
Direktur Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP ) Wakatobi Dr. Arham Rumpa, S.St.Pi., M.Si., turut hadir dan menyatakan kesiapan lembaganya bermitra lintas sektor pendidikan, masyarakat, pemerintah, lembaga adat, dan komunitas, untuk mengembangkan potensi budaya dan promosi Daerah
“Pengembangan kebudayaan tidak bisa dilakukan sendirian. Perlu kolaborasi semua pihak agar warisan ini terus hidup dan memberi manfaat luas,” tegasnya.
Ketua sekaligus inisiator Kapota Maliga, Nasrun M.S.C., menjelaskan kegiatan ini difasilitasi melalui Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP. Diseminasi bukan sekadar seremonial, melainkan ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran, bagaimana tradisi perjodohan Kabuenga dikemas menjadi festival yang memperkuat identitas, memperkenalkan budaya kepada generasi muda, sekaligus mendorong kreativitas masyarakat, promosi daerah, hingga peluang ekonomi berbasis budaya.
“Kabuenga bukan hanya warisan masa lalu. Kami kemas agar tetap relevan, membuka peluang pariwisata, menggerakkan ekonomi warga, dan menempatkan budaya sebagai kekuatan masa depan Kapota dan Wakatobi,” ungkap Nasrun.
Sesi diskusi menghadirkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Adat Kesultanan Buton, LAKB Kadie Kapota, akademisi, serta Dinas Pariwisata.
Puncak acara ditandai penandatanganan Piagam Komitmen Bersama Pelestarian Kebudayaan Kapota. Pemerintah, lembaga adat, akademisi, pemerintah desa, dan komunitas bersatu menyepakati pelestarian budaya sebagai agenda bersama yang berkelanjutan.
Hadir pula taruna/i AKKP Wakatobi, tenaga pendidik, pemerhati budaya, warga Kapota, serta berbagai elemen masyarakat. Semua sepakat, Festival Kabuenga tidak boleh berhenti usai acara selesai. Pengalaman penyelenggaraan menjadi bekal untuk kegiatan berikutnya, sehingga tradisi tetap hidup, budaya Wakatobi makin dikenal, dan kesejahteraan masyarakat terus tumbuh.
(Sumardin)





