Menjaga Ritme Layanan di Era Digital : Langkah Tomoni Timur Mengandalkan Srikandi

oleh -10 membaca
oleh

Luwu Timur, Chaneltimur.comDi balik meja kerja di kantor Kecamatan Tomoni Timur, satu prinsip sederhana terus dijaga : pelayanan tak boleh terhenti, dan informasi harus bergerak cepat. Prinsip itu kini dijalankan melalui sistem digital, aplikasi persuratan Srikandi, yang telah menjadi tulang punggung dalam tata kelola surat-menyurat di wilayah tersebut.

Sejak Mei 2024 hingga pertengahan Juli 2025, sebanyak 278 surat keluar telah diproses melalui aplikasi Srikandi. Angka itu mencerminkan komitmen kecamatan dalam mengadopsi teknologi informasi untuk mempercepat alur administrasi sekaligus merapikan arsip secara elektronik.

Camat Tomoni Timur, Yulius, mengakui bahwa sejak awal dirinya menjabat, tekad untuk menerapkan sistem digital sudah tertanam kuat. “Sejak saya diberikan amanah sebagai Camat, saya langsung menyampaikan kepada seluruh staf bahwa kita akan menggunakan Srikandi secara penuh. Ini bukan sekadar alat bantu, tapi sudah menjadi sistem utama,” ujarnya, Sabtu (12/7/2025).

Bagi mantan Sekdis Kominfo ini, digitalisasi bukan tren semata, melainkan keharusan. Dalam konteks pemerintahan daerah, percepatan informasi dari tingkat kecamatan ke desa menjadi sangat penting. Satu surat keputusan, misalnya, bisa berdampak pada percepatan program di desa. Maka, kecepatan dan ketepatan penyampaian informasi menjadi hal yang tidak bisa ditunda.

“Bayangkan jika informasi penting terlambat sampai ke kepala desa hanya karena suratnya masih di meja atau belum diarsipkan dengan baik. Sistem ini menjawab tantangan itu,” ujarnya.

Kecamatan Tomoni Timur mewajibkan seluruh surat keluar yang ditandatangani Camat untuk diproses melalui Srikandi. Kecuali dalam situasi teknis tertentu seperti gangguan sistem, jalur manual nyaris tidak digunakan lagi.

Instruksi ini tidak hanya mengubah pola kerja staf, tetapi juga mendorong kedisiplinan administratif. Semua dokumen kini tercatat secara digital, memiliki nomor surat otomatis, dan dapat ditelusuri kapan pun dibutuhkan. Tak hanya efisien, sistem ini juga memperkuat akuntabilitas pelayanan.

“Surat-surat yang keluar itu kan bukan hanya kertas, tapi juga keputusan publik. Harus ada jejaknya, harus bisa dipertanggungjawabkan,” kata camat

Langkah Tomoni Timur sejalan dengan arahan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang sedang mendorong digitalisasi arsip dinamis melalui aplikasi Srikandi di semua OPD hingga tingkat kecamatan. Sistem ini juga terintegrasi dengan layanan kearsipan nasional yang diampu oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Namun, keberhasilan ini bukan hanya soal perangkat lunak. Ada proses pembiasaan dan komitmen dari seluruh pegawai yang tidak bisa disepelekan. Tidak sedikit dari mereka yang awalnya belum terbiasa dengan sistem daring, terutama pegawai senior. Tapi pelatihan dan pendampingan secara bertahap membantu proses transisi ini.

“Kadang yang susah itu bukan teknologinya, tapi kebiasaan manusianya. Tapi alhamdulillah, sekarang semua sudah terbiasa. Justru kalau sistem offline, sekarang jadi terasa lambat,” kata salah satu staf kecamatan.

Tomoni Timur kini bisa menjadi contoh bahwa modernisasi birokrasi bisa dimulai dari unit paling bawah. Di tengah keterbatasan sumber daya, tekad untuk berubah menjadi faktor penentu. Dan di balik angka 278 surat yang tampak sederhana itu, tersembunyi semangat perubahan yang terus dijaga.

“Ini bukan tentang berapa banyak surat yang keluar, tapi tentang bagaimana pemerintah hadir lebih cepat melalui cara yang lebih baik,” pungkas Camat Tomoni Timur. (Red)