Luwu Timur, Chaneltimur.com – Derita yang dialami M Ridwan (19) seolah datang tanpa aba-aba. Di usia yang masih sangat muda, ia harus berjuang melawan luka bakar serius di kedua kakinya, akibat sengatan arus listrik saat bekerja di Kota Palopo, beberapa waktu lalu. Kini, di tengah keterbatasan dan kondisi fisik yang lemah, secercah harapan mulai menyala.
Ridwan bukan hanya menghadapi rasa sakit yang tak terperi, tetapi juga kenyataan hidup sebagai anak yatim dari keluarga kurang mampu. Kondisi itu membuat langkah menuju pengobatan lanjutan terasa berat bahkan nyaris mustahil jika harus ditanggung sendiri oleh keluarganya.
Namun, di tengah situasi tersebut, kepedulian pemerintah daerah hadir memberi jalan. Camat Angkona, Putu Gede Sudarsana, SKM, M.Kes, bergerak cepat mengkoordinasikan penanganan lanjutan bagi Ridwan. Upaya itu dilakukan dengan menjalin komunikasi intensif bersama pihak terkait, guna memastikan korban segera mendapatkan perawatan medis yang lebih memadai.
“Berdasarkan petunjuk Bapak Bupati Luwu Timur, pengobatan lanjutan ke Makassar akan difasilitasi dan ditanggung sepenuhnya oleh Bapak Bupati. Ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah untuk meringankan beban biaya pengobatan korban,” ujar Putu Gede Sudarsana.
Langkah tersebut menjadi titik terang bagi Ridwan dan keluarganya. Rujukan ke Makassar dinilai sangat penting, mengingat kondisi luka bakar yang dialaminya membutuhkan penanganan spesialis dan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Tidak hanya berhenti pada koordinasi pemerintah, Camat Angkona juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut terlibat. Ia berharap adanya sinergi dari berbagai pihak aik lembaga sosial maupun dunia usaha agar dapat bersama-sama memberikan dukungan moral maupun bantuan lainnya kepada Ridwan.
“Kami berharap kepedulian ini tidak berhenti di pemerintah saja. Perlu kebersamaan kita semua untuk membantu saudara kita ini agar bisa kembali pulih dan menjalani hidupnya seperti semula,” tambahnya.
Peristiwa yang dialami Ridwan menjadi pengingat bahwa musibah bisa datang kapan saja, tanpa memandang usia dan latar belakang. Namun di sisi lain, respons cepat pemerintah daerah melalui Camat Angkona menunjukkan bahwa kehadiran negara masih terasa nyata, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi paling rentan.
Kini, harapan itu masih ada. Di tengah luka yang belum sembuh, Ridwan tak lagi berjalan sendiri. Ada tangan-tangan yang terulur, ada kepedulian yang menguatkan membawa keyakinan bahwa kesembuhan bukan lagi sekadar impian. (Red)





