Luwu Timur, Chaneltimur.com – Menulis berita sudah jadi napas sehari-hari.
Itu saya sadari betul. Bukan sekarang. Sudah lama. Bahkan sejak masih duduk di kursi Sekretaris Dinas Kominfo Luwu Timur.
Suatu ketika, seorang teman wartawan bertanya. Nada suaranya setengah heran, setengah penasaran.
“Pak Sekdis, kenapa ki masih edit berita? Masih juga bikin rilis?”
Saya tidak langsung jawab. Saya ingat betul momen itu. Kami duduk santai, tapi pertanyaannya serius.
Saya bilang pelan, “Menulis itu sudah jadi napas saya setiap hari.”
Memang begitu. Ada yang terasa kurang kalau sehari saja tidak menulis.
Entah itu berita, opini, atau sekadar catatan pendek yang mungkin tidak pernah dibaca orang lain. Tapi tetap harus ditulis.
Seperti orang yang terbiasa minum kopi pagi. Sekali tidak, ada yang hilang.
Saya bilang ke teman wartawan tadi, saya ini mantan jurnalis dari 1999 di berbagai media cetak sampai eranya media online. Belajar dan kuliah S1 jurnalistik juga secara formal di kampus merah. Jadi bukan sekadar bisa, tapi sudah menjadi kebiasaan yang menempel. Melekat. Sulit dilepas.
Hari ini saya jadi camat. Jabatan yang, kalau dilihat sekilas, tidak ada hubungannya dengan dunia tulis-menulis. Lebih banyak urusan administrasi, pelayanan masyarakat, koordinasi lintas sektor.
Tapi ternyata, menulis tidak pernah benar-benar pergi.
Ia ikut. Diam-diam. Menunggu waktu.
Dan setiap kali saya menulis, saya seperti kembali menjadi diri sendiri.
Di situlah saya mulai paham satu hal seperti yang pernah disiratkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis bukan sekadar aktivitas, tapi cara manusia melawan lupa.
Pramudya pernah mengatakan, kurang lebih begini : orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.
Kalimat itu sederhana. Tapi dalam.
Saya sering memikirkannya.
Berapa banyak hal yang kita lihat setiap hari, tapi hilang begitu saja karena tidak pernah dituliskan? Berapa banyak peristiwa kecil di desa, di kecamatan, yang sebenarnya penting, tapi lenyap karena tidak ada yang mencatat?
Menulis, pada akhirnya, bukan soal gaya. Bukan soal siapa yang membaca. Tapi soal keberanian untuk menyimpan jejak.
Jejak pikiran. Jejak peristiwa. Jejak zaman.
Maka bagi saya, menulis bukan lagi pilihan. Ia sudah menjadi bagian dari hidup.
Seperti bernapas.
Dan selama saya masih bernapas, saya kira saya akan terus menulis.
@yul.lutim
#CamatTomoniTimur





