LUWU UTARA, Chaneltimur.com – Di bawah terik matahari pukul 10.02 WITA, pemandangan tak biasa terlihat di lapangan MABES BOSARA INDONESIA ARCHERY CLUB, Bone-Bone.21 Oktober 2026
Bukan anak muda, bukan siswa SMPN 2 Bone-Bone, melainkan 15 orang ibu-ibu dengan pakaian syar’i lengkap, bercadar, dan berniqab, berdiri gagah dengan busur di tangan.
Mereka adalah Srikandi-Srikandi Mabes Bosara Indonesia.
Bagi mereka, panahan bukan sekadar olahraga. Panahan adalah (sunnah). Panahan adalah terapi jiwa. Panahan adalah cara mereka menjaga diri, menjaga keluarga, dan menjaga ukhuwah.
“Kami ini ibu-ibu, bro. Ada yang sudah punya 2 anak, 3 anak, bahkan cucu. Tapi semangat kami untuk belajar memanah tidak kalah dengan anak muda. Kami ingin menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Memanah itu melatih fokus, sabar, dan tawakkal,” ujar salah satu ibu dengan logat Bugis yang kental, sambil tersenyum di balik niqabnya.
Lihatlah foto itu. Ada yang memakai gamis maroon, hitam, biru, coklat. Ada yang duduk di bawah, ada yang berdiri. Payung tergeletak di tanah, bukti mereka sudah berjam-jam di sana. Target panahan yang bolong-bolong bukti anak panah mereka tepat sasaran.
Mereka tidak malu kepanasan. Mereka tidak takut hitam. Karena mereka tahu, di balik setiap tarikan busur, ada pahala.
MABES BOSARA INDONESIA bukan sekadar tempat latihan. Ini adalah rumah kedua bagi ibu-ibu di Bilokka dan Bone-Bone untuk saling menguatkan. Di saat banyak ibu-ibu lain sibuk dengan gosip, mereka sibuk dengan busur. Di saat yang lain mager di rumah, mereka berkeringat di lapangan.
Ini adalah bukti bahwa hijrah itu bisa lewat anak panah.
Dari Mabes Bosara, mereka belajar bahwa perempuan juga bisa kuat, perempuan juga bisa tangguh, tanpa harus meninggalkan kodratnya sebagai ibu dan istri yang sholehah.
Salut dan hormat untuk Ibu-Ibu Mabes Bosara Indonesia Archery Club! Kalian inspirasi!
Lap. Masding Amor, S.H.




